KARAWANG | detikkarawang.com | Di tengah tanggung jawab memimpin sebuah perguruan tinggi, Budi Rismayadi memiliki kegemaran yang sederhana, yakni menanam tanaman dan memelihara ternak. Aktivitas yang dekat dengan kehidupan masyarakat tersebut memperlihatkan sisi lain seorang akademisi dan pemimpin pendidikan yang juga menjalani perannya sebagai seorang ayah.Bagi sebagian orang, menanam dan beternak merupakan kegiatan untuk mengisi waktu luang. Namun, keduanya juga menyimpan pelajaran kehidupan yang dapat menjadi bahan renungan, terutama dalam memahami proses mendidik, merawat, dan mengembangkan potensi manusia.Tanaman memerlukan tanah yang baik, air yang cukup, dan perawatan hingga mampu tumbuh dengan sehat. Demikian pula hewan ternak membutuhkan perhatian, pemeliharaan, dan lingkungan yang mendukung kehidupannya Proses tersebut memiliki kedekatan makna dengan dunia pendidikan. Seorang pendidik menanamkan ilmu, membimbing perkembangan karakter, dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan kemampuannya.Dari sinilah muncul sebuah refleksi menarik mengenai istilah BUDI DAYA, yang dapat dimaknai sebagai Budi yang Diberdayakan.Menanam Tanaman, Menanam Nilai Kehidupan Menanam merupakan kegiatan yang mengajarkan manusia memahami proses pertumbuhan.Benih yang ditanam membutuhkan waktu sebelum berkembang menjadi tanaman yang kuat dan menghasilkan manfaat. Dalam proses tersebut, manusia belajar tentang pentingnya ketekunan, konsistensi, dan kesabaran. Hasil yang baik memerlukan perhatian terhadap setiap tahap pertumbuhan. Nilai-nilai tersebut juga relevan dengan tanggung jawab seorang ayah dalam keluarga. Mendidik anak merupakan proses panjang yang membutuhkan kasih sayang, keteladanan, serta kemampuan memahami perkembangan setiap individu. Sebagai seorang ayah, Budi Rismayadi memiliki dua ruang kehidupan yang dapat dipertemukan melalui refleksi ini, yakni keluarga sebagai tempat pendidikan karakter yang pertama dan perguruan tinggi sebagai lingkungan pengembangan ilmu pengetahuan. Sebagaimana tanaman memiliki
kebutuhan pertumbuhan yang berbeda, setiap anak dan mahasiswa juga mempunyai karakter, kemampuan, serta potensi yang tidak selalu sama. Dalam dunia pendidikan, kemampuan memahami perbedaan tersebut menjadi penting agar setiap individu memperoleh kesempatan untuk berkembang sesuai dengan kapasitasnya. Memelihara Ternak, Belajar tentang Tanggung Jawab Selain menyukai kegiatan menanam, Budi Rismayadi juga memiliki kegemaran memelihara ternak. Kegiatan beternak mengandung nilai kedisiplinan dan tanggung jawab. Hewan ternak membutuhkan makanan, lingkungan yang sehat, serta perhatian terhadap kondisi pertumbuhannya. Aktivitas tersebut memperlihatkan bahwa memelihara kehidupan memerlukan kepedulian yang terus-menerus. Dalam konteks kepemimpinan, nilai kepedulian memiliki relevansi yang kuat. Seorang pemimpin perlu memahami kebutuhan orang-orang yang berada dalam tanggung jawabnya, memberikan kesempatan berkembang, dan membangun lingkungan kerja yang mendukung produktivitas. Kepemimpinan dalam dunia pendidikan juga membutuhkan kemampuan memadukan ketegasan dalam menentukan arah dengan kepedulian terhadap perkembangan sumber daya manusia. Dari kegiatan sederhana seperti menanam dan memelihara ternak, terdapat pelajaran yang dapat diterapkan dalam pengelolaan organisasi, yakni pentingnya menjaga proses, memperhatikan kebutuhan, dan mengevaluasi hasil secara berkelanjutan. BUDI DAYA: Budi yang Diberdayakan Nama Budi memiliki kedekatan makna dengan nilai kebijaksanaan, akal, serta keluhuran perilaku. Sementara itu, daya berkaitan dengan kekuatan, kemampuan, dan potensi untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Perpaduan keduanya menghadirkan sebuah gagasan filosofis yang menarik, BUDI DAYA, yakni proses membudidayakan budi dan memberdayakan kemampuan manusia. Dalam pemaknaan tersebut, membudidayakan manusia berarti mengembangkan nilai-nilai kebaikan, membangun karakter, meningkatkan pengetahuan, dan membuka kesempatan agar setiap individu mampu menghasilkan karya.Filosofi tersebut memiliki hubungan dengan kegemaran Budi Rismayadi terhadap kegiatan menanam dan beternak. Tanaman yang tumbuh dengan baik merupakan hasil pemeliharaan yang tepat. Begitu pula manusia yang berkembang menjadi pribadi berkarakter membutuhkan pendidikan, lingkungan yang sehat, serta dukungan untuk mengembangkan potensinya.BUDI DAYA dapat menjadi bahan refleksi tentang pendidikan yang menempatkan manusia sebagai pusat pengembangan. Proses pembelajaran perlu memberikan ruang bagi pertumbuhan kecerdasan, kematangan karakter, dan kepedulian terhadap kehidupan sosial. Dari Kegemaran Pribadi Menuju Inspirasi Pemberdayaan Masyarakat Kegemaran menanam dan memelihara ternak juga memiliki hubungan dengan kehidupan masyarakat Karawang yang memiliki potensi di bidang pertanian, peternakan, industri, dan kewirausahaan. Perguruan tinggi dapat mengambil peran melalui kegiatan penelitian terapan, pendampingan usaha masyarakat, pengembangan teknologi pertanian, pengelolaan peternakan, serta peningkatan keterampilan ekonomi keluarga. Dalam kerangka BUDI DAYA, aktivitas pemberdayaan masyarakat dapat dimulai dari pengembangan kemampuan individu. Masyarakat yang memperoleh akses terhadap pengetahuan, keterampilan, dan kesempatan ekonomi memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan kemandirian dan kesejahteraannya. Oleh karena itu, hubungan antara kampus dan masyarakat perlu terus dikembangkan melalui kegiatan yang menjawab kebutuhan setempat. Semangat tersebut sejalan dengan makna budi
daya yang menghasilkan sesuatu melalui proses pemeliharaan dan pengembangan secara berkelanjutan. Seorang Ayah, Seorang Pendidik, dan Pelajaran tentang Kehidupan Sosok Budi Rismayadi dapat dilihat melalui beberapa peran yang saling melengkapi. Ia merupakan seorang ayah dalam kehidupan keluarga, akademisi dalam lingkungan pendidikan, dan pemimpin dalam organisasi perguruan tinggi. Kegemarannya menanam tanaman serta memelihara ternak memberikan sisi personal yang menarik untuk mengenal kehidupan seorang pemimpin di luar aktivitas formal kampus. Dari kegiatan tersebut, kita dapat mengambil pelajaran bahwa sesuatu yang tumbuh dan berkembang memerlukan perhatian, kesabaran, serta tanggung jawab. Tanaman yang dirawat dapat menghasilkan buah. Ternak yang dipelihara dapat memberikan manfaat bagi kehidupan. Sementara itu, manusia yang memperoleh pendidikan serta pembinaan karakter memiliki kesempatan untuk menghasilkan karya dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Di sinilah filosofi BUDI DAYA menemukan makna yang lebih luas. Membudidayakan tanaman berarti merawat kehidupan yang tumbuh di tanah. Membudidayakan budi berarti mengembangkan nilai dan kemampuan yang tumbuh dalam diri manusia. Keduanya sama-sama mengajarkan pentingnya proses, kesabaran, dan tanggung jawab terhadap apa yang sedang dikembangkan. Kegemaran sederhana Budi Rismayadi dapat menjadi inspirasi bagi refleksi pendidikan yang lebih manusiawi, yakni pendidikan yang memberikan perhatian pada perkembangan individu, menghargai proses pertumbuhan, dan mengarahkan kemampuan untuk menghasilkan kebermanfaatan. Sebab, sebagaimana tanaman membutuhkan akar yang kuat untuk bertahan dan berkembang, manusia juga membutuhkan karakter sebagai landasan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Dari Budi Tumbuh Daya, dari Daya Lahir Karya, dan dari Karya Hadir Kebermanfaatan.



